๑۩๑ Definisi Taqlid

PERTANYAAN :

Apa itu taqlid?

Apakah taqlid terpuji dalam agama?

JAWABAN :

Secara bahasa (lughowi) taqliid bermakna :

Kata taqliid (تَقْلِيْدٌُ) adalah mashdar dari qallada – yuqallidu (قَلَّدَ – يُقَلِّدُ). Secara bahasa, ia adalah bermakna :

وضع الشيء في العنق محيطاً به كالقلادة

”Meletakkan sesuatu di leher dengan melilitkannya seperti kalung” [Al-Ushul min ’Ilmil-Ushul oleh Ibnu ’Utsaimin hal. 49 – Maktabah Al-Misykah. Definisi yang serupa dikatakan pula oleh Asy-Syinqithi dalam Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 305 – Cet. Multaqaa Ahlil-Hadiits].

Secara istilah (syari’at) taqliid bermakna :

قبول قول الغير من غير معرفة دليله

”Menerima satu perkataan tanpa mengetahui dalilnya” [Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 306 – Cet. Multaqaa Ahlil-Hadiits].

اتباع من ليس قوله حجة

”Mengikuti orang yang perkataannya bukan hujjah” [Al-Ushul min ’Ilmil-Ushul oleh Ibnu ’Utsaimin hal. 49 – Maktabah Al-Misykah].

العمل بقول الغير من غير حجة

”Satu perbuatan yang didasarkan oleh satu perkataan tanpa hujjah” [Irsyaadul-Fuhuul oleh Asy-Syaukani juz 2 hal. 51 – Maktabah Al-Misykah].

Al-Amidy mendefinisikan hal yang mirip dengan Asy-Syaukani [Ihkaamul-Ahkaam 4/220].

Apakah taqlid itu terpuji dalam ilmu ?

Al-Hafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah dalam kitabnya yang masyhur : Jami’u Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal. 36-37 mengatakan :

العلم عند العلماء المتكلمين في هذا المعنى هو ما استيقنته وتبينته وكل من استقن شيئا وتبينه فقد علمه وعلى هذا من لم يستيقن الشيء وقال به تقليدا أفلم يعلمه والتقليد عند جماعة العلماء غير الاتباع لأن الاتباع هو ان تتبع القائل على ما بان لك من فضل قوله وصحة مذهبه والتقليد أن تقول بقوله وأنت لا تعرفه ولا وجه القول ولا معناه

“Definisi ilmu menurut ulama adalah : Sesuatu yang kamu perdalami dan kamu pahami, dan setiap orang yang mendalami sesuatu dan memahaminya maka sesungguhnya dia mengetahui. Atas dasar ini, maka orang yang tidak mendalami sesuatu, lalu ia mengatakannya karena taqlid, maka dia tidak mengetahuinya. Sedangkan taqlid menurut ulama adalah bukan ittiba’ (mengikuti). Sebab ittiba’ adalah bila kamu mengikuti orang yang berpendapat tentang sesuatu yang telah kamu ketahui keshahihan (kebenaran) pendapatnya. Sedangkan taqlid adalah bila kamu mengatakan pendapat seseorang dan kamu tidak mengetahui arah dan arti pendapat tersebut” [selesai].

Bahkan Ibnu Abdil-Barr menulis dalam kitabnya tersebut satu bab khusus yang berjudul : Kerusakan Taqlid dan Penafikannya; Serta Perbedaan Antara Taqlid dan Ittiba’ [باب فساد التقليد ونفيه والفرق بين التقليد والاتباع]. Pada bab tersebut beliau menukil perkataan salah seorang pembesar ulama Malikiyyah yang bernama : Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad Al-Bashri Al-Maliki :

وقال أبو عبد الله بن خويز منداد البصري المالكي التقليد معناه في الشرع الرجوع إلى قول لا حجة لقائله عليه وذلك ممنوع منه في الشريعة والاتباع ما ثبت عليه حجة وقال في موضع آخر من كتابه كل من ابتعت قوله من غير أن يجب عليك قوله لدليل يوجب ذلك فأنت مقلده والتقليد في دين الله غير صحيح وكل من أوجب عليك الدليل اتباع قوله فأنت متبعه والاتباع في الدين مسوغ والتقليد ممنوع

Dan berkata Abu ‘Abdillah bin Khuwaiz Mindad Al-Bashri Al-Maliki : “Makna taqlid dalam syari’at adalah merujuk suatu pendapat yang tidak memiliki hujjah, dan yang demikian itu adalah dilarang dalam syari’at. Sedangkan ittiba’ adalah (merujuk) pada satu pendapat yang disertai hujjah (dalil)”. Dan beliau berkata di tempat yang lain : “Setiap orang yang Engkau ikuti perkataannya tanpa ada dalil yang mengharuskan hal itu, maka Engkau adalah orang yang taqlid kepadanya. Sementara taqlid tidaklah dibenarkan dalam agama Allah. Setiap orang yang Engkau ikuti karena adanya dalil yang mengharuskan Engkau mengikuti pendapatnya, maka Engkau dianggap ittiba’ (mengikutinya). Ittiba’ adalah hal yang diperkenankan dalam agama sedangkan taqlid adalah hal yang dilarang” [selesai – lihat Jami’u Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi 2/117].

Imam As-Suyuthi berkata : “Sesungguhnya orang yang taqlid itu tidak dinamakan orang yang berilmu” [Dinukil As-Sindi dalam hasyiyah-nya/ terhadap Sunan Ibni Majah 1/7 dan dia menetapkannya].

Bagaimana bisa seorang yang taqlid (muqallid) dinamakan sebagai orang yang berilmu padahal ia hanya mendasarkan perkataan dan perbuatannya hanya dengan konsep “ikut-ikutan” ? Hakekat seorang muqallid , tidaklah membangun amalnya dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pengetahuan ijma’.

taqlid berbeda dengan ittiba’. lihat “DISINI

⊰⊱ PustakaSunnah.Wordpress.Com ⊰⊱
Literatur

catatan Abul Jauzaa [http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/07/taqlid-dan-sedikit-penjelasan-tentang.html]

About these ads

About pustakasunnah

Tolabul ilmi

Posted on Juni 17, 2010, in TOPIK, ۞ Taqlid. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Izin Copas Atau Komentar Silahkan Diketik Pada Kolom Dibawah Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: