Monthly Archives: Juni 2010

Tatacara Mandi Wajib

PERTANYAAN :

Bagaimana tatacara mandi wajib akibat junub?

JAWABAN :

Sifat mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang sempurna yang mencakup fardu-fardunya, kewajiban-kewajibannya, dan hal-hal yang disunnahkan ketika mandi adalah sebagai berikut :

Dari “Aisyah berkata: Adalah Rasulullah jika mandi karena janabah dia mulai dengan membersihkan kedua tangannya1), kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudlu (dalam riwayat yang lain sebagaimana wudlunya untuk sholat2) (dalam riwayat Maimunah : selain kedua kakinya3), kemudian dia mengambil air lalu dia masukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut (dalam riwayat yang lain : kemudian dia menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga jika dia telah merasa bahwasanya telah mengena kulit kepalanya maka dia menumpahkan air ke kepalanya4), lalu menyiram kepalanya dengan tiga genggam air (dalam riwayat lain : dia mulai dengan bagian kanan kepala lalu yang kiri5) , kemudian mengguyur seluruh tubuhnya (dalam riwayat lain : ke seluruh kulit (tubuh) beliau6)) dan mencuci kedua kakinya. (Hadits riwayat Bukhari Muslim dan ini adalah lafal yang terdapat di Muslim, sedangkan tambahan-tambahan riwayat yang lain ada di Bukhari)

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim juga dari hadits Maimunah, dia berkata : “Aku meletakkan bagi Nabi air untuk (mandi) janabah. Lalu dia memiringkan (tempat air tersebut ) dengan menggunakan tangan kanannya ke tangan kanan kirinya dua kali atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya (dalam riwayat lain : dan kotoran yang ada padanya7) (dalam riwayat lain : dengan tangan kirinya) lalu memukulkan (dalam riwayat lain : menggosok 8) tangannya ke bumi atau ke tembok (dalam riwayat lain : ke tanah9) dua kali atau tiga kali (dalam riwayat lain :kemudian mencuci tangannya itu10), kemudian berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung) lalu mencuci wajahnya dan mencuci kedua lengannya kemudian menumpahkan air ke kepalanya, lalu mencuci seluruh tubuhnya, lalu berpindah tempat, lalu mencuci kedua kakinya. Lalu aku memberikannya secarik kain dan dia tidak mau (dalam riwayat lain : sapu tangan tapi dia menolaknya11) lalu dia mengeringkan air dengan kedua tangannya”.

1. Berniat
Menurut Hanafiyah, berniat hanyalah sunnah (lihat fiqh wudlu dalam pembahasan niat ). Adapun menurut jumhur adalah wajib.12) Yaitu berniat dalam hatinya untuk mandi besar, berdasarkan hadits Umar bin Al-Khoththab Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“ Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”13)

Untuk masalah niat ada empat keadaan :

(1) Dia berniat untuk mengangkat dua hadats (hadats besar dan kecil) secara sekaligus, maka kedua hadats tersebut terangkat . Sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalaam:

“ Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(2) Dia hanya berniat untuk mengangkat hadats besar saja. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Tai iyah maka hadats kecilnya pun otomatis terangkat (dan ini juga merupakan pendapat Syaikh As-Sa’di). Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla maka jika dia telah bersuci dengan niat untuk mengangkat hadats besar maka ini telah cukup untuk dia, karena Allah Azza wa Jalla tidak menyebutkan hal-hal yang lain selain bersuci. Dan inilah pendapat yang benar.

(3) Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilaksanakan kecuali dengan wudlu. Misalnya sholat . Jika dia berniat mandi untuk sholat dan tidak berniat untuk mengangkat hadats maka otomatis terangkat dua hadats dari dirinya, sebab sholat tidak sah kecuali dengan terangkatnya dua hadats.

(4) Dia berniat untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan kecuali dengan mandi (dan tidak mengapa tanpa wudlu). Misalnya membaca Al-Qur’an atau untuk berdiam di mesjid (bagi yang berpendapat demikian). Jika dia mandi dengan niat untuk membaca Al-Qur’an dan dia tidak berniat untuk mengangkat dua hadats maka yang terangkat hanyalah hadats besar saja. Sehingga jika dia ingin sholat atau ingin menyentuh mushaf (bagi yang berpendapat demikian) maka dia harus berwudlu. Namun kenyataannya sekarang, kebanyakan manusia mandi dengan niat untuk mengangkat hadats besar atau untuk sholat , maka terangkatlah kedua hadats mereka.14)

2. Membaca bismillah
Dan hukumnya adalah mustahab menurut jumhur, adapun menurut Hanabilah adalah fardlu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu15). Namun Hanabilah menganggap bahwasanya hukum membaca bismillah ketika mandi adalah lebih ringan daripada ketika wuldlu, sebab hadits Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu tersebut hanya jelas mencakup wudlu dan tidak yang lainnya.16)

3. Mencuci kedua telapak tangannya

4. Mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan menghilangkan kotoran yang terdapat di kemaluannya

5. Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci kemudian di cuci

Yaitu Membersihkan tangan kiri tersebut di tanah dan mengusapnya dengan tanah yang suci dan menggosoknya dengan baik, kemudian di cuci berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Maimunah atau menggosokan tangan kiri ke dinding kemudian mencucinya sesuai dengan hadits Maimunah atau mencucinya dengan air dan sabun.

6. Berwudlu
Para Ulama khilaf tentang berwudlu ketika mandi janabah, apakah hukumnya wajib atau hanya mustahab. Adapun nukilan Ijma ’oleh Ibnu Baththol bahwasanya wudlu hukumnya sunnah adalah tertolak. Abu Tsaur dan Dawud serta yang lainnya telah berpendapat bahwasanya mandi tidak bisa mewakili wudlu. Namun kebanyakan para ulama berpendapat akan tidak wajibnya berwudlu ketika mandi janabah dan bahwasanya hadats kecil telah masuk ke dalam hadats besar (namun tidak sebaliknya).17) Adapun menurut Hanafiyah harus disertai dengan niat wudlu juga Dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm dan yang lainnya, dan ini adalah pendapat yang benar. Sebab hanya sekedar perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak bisa menunjukan akan wajibnya, dan tidak ada dalil yang menunjukan akan wajibnya18). Adapun perincian cara berwudlu lihat penjelasan di bawah ini.

Perlu diperhatikan bahwasanya, jika seseorang telah mandi wajib dengan sah (dengan niat mengangkat hadats besar dan hadats kecil, lihat penjelasan tentang niat pada no 1 di atas), dan setelah mendi tersebut dia belum batal wudlu, maka dia tidak perlu berwudlu lagi. Dalilnya :

‘Aisyah berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah berwudlu setelah mandi”. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada :”Aku berwudlu setelah mandi ?”, maka Ibnu Umar berkata kepadanya :”Kamu telah berlebih-lebihan ”

Berkata Syaikh Al-Albani : “Dzohir dari hadits bahwasanya yang sunnah adalah wudlu sebelum mandi bukan setelah mandi, dengan dalil hadits ‘Aisyah yang lain (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim -pent )……, dan tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang berwudlu sebelum mandi kemudian berwudlu lagi setelahnya maka dia telah berlebihan, dan barangsiapa yang mencukupkan wudlu setelah mandi (dia tidak berwudlu sebelum mandi tetapi sesudahnya pent ) maka dia telah menyelisihi sunnah.”19)

7. Memasukkan jari-jari ke air kemudian menyela-nyela rambut dengan jari-jari tersebut hingga ke kulit kepala.

Lalu menyiram kepalanya dengan tiga cidukan dengan kedua tangannya, sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah. Dia mulai dengan menyirami bagian kanan kepala kemudian bagian kiri kemudian bagian tengah kepala, sesuai dengan hadits ‘Aisyah.

Dan hukum mencuci kulit kepala adalah wajib baik rambutnya tebal maupun tipis, termasuk juga mencuci kulit dagu yang ditumbuhi jenggot . Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mandi janabah, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

Salah seorang dari kalian mengambil air lalu dia bersuci dan membaguskan bersucinya tersebut , lalu menyiram kepalanya dan menggosokkannya hingga sampai ke akar rambut , lalu mengguyurkan air di atas kepalanya. (Riwayat Muslim)

Mengenai rambut wanita, terjadi khilaf diantara para ulama. Namun yang rojih adalah bagi wanita tidak perlu menguraikan rambutnya ketika mandi karena janabah sesuai dengan hadits Ummu Salamah, dia berkata :

Aku berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang mengikat rambutku. Apakah aku membukanya untuk mandi janabah ?”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : ”Tidak”, tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali”.22)

Dan disunnahkan bagi wanita untuk menguraikan rambutnya ketika mandi karena haidh sesuai dengan hadits ‘Aisyah, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadanya ketika dia sedang haidh : Ambillah airmu dan daun bidaramu dan bersisirlah.23)

Dan tidaklah mungkin bisa bersisir kecuali dengan membuka ikatan rambut .

Adapun hadits Ali adalah dlo ’if yaitu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Barang siapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut karena janabah yang tidak tersentuh air, maka Allah akan melakukan ini dan itu baginya dari neraka.24)

Bagaimana dengan rambut yang terurai ?

Maka mencucinya adalah wajib menurut Syafi’iyah (dan ini juga merupakan pendapat Hanabilah yang paling rojih), mereka berdalil dengan hadits Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu yang dho’if yaitu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya dibawah setiap rambut adalah janabah, maka cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnyat .25)

Adapun menurut Hanafiyah dan Malikiyah tidak wajib berdasarkan hadits Ummu Salamah yang telah lalu.26)

8. Menyiramkan air ke kepala dan seluruh tubuh.

Sesuai dengan hadits Maimunah dan ‘Aisyah, dimulai dengan menyirami bagian kanan tubuh kemudian yang kiri sesuai dengan hadits ‘Aisyah :

“Adalah menyenangkan Rasulullah untuk memulai dengan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir rambut , ketika bersuci, dan dalam semua keadaan”.27)

Dan hendaknya dia memperhatikan untuk mencuci kedua ketiaknya dan bagian-bagian tubuh yang terlipat dan pangkal kedua paha sesuai hadits ‘Aisyah, dan dia menggosok badannya jika kesucian bagian tersebut tidak bisa sempurna tanpa digosok.28)

Apakah wajib baginya untuk beristinsyaq dan berkumurkumur atau yang lainnya ?

Hanabilah dan Hanafiyah mewajibkan berkumur-kumur dan beristinsyaq karena harus mengenai seluruh tubuh. Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah bahwasanya berkumur dan beristinsyaq hanyalah sunnah sebagaimana disunnahkan ketika berwudlu.29)

9. Berpindah tempat kemudian mencuci kedua kaki.

Adapun mengulangi mencuci kaki (setelah mencucinya ketika wudlu) maka hal ini tidaklah jelas dalam hadits. Hal ini (yaitu mencuci kaki ketika wudlu) merupakan istimbat dari lafal (sebagaimana wudlunya ketika akan sholat ), karena dzohir ِlafal ini mencakup mencuci kedua kaki juga dan juga merupakan istimbat dari lafal (kemudian dia mencuci seluruh badannya) karena lafal ini juga mencakup mencuci kedua kaki.

Bahkan telah ada lafal yang jelas dalam shohih Muslim (1/ 17 4) dengan lafal (kemudian dia menyirami seluruh tubuhnya lalu mencuci kedua kakinya). Namun dalam hadits Maimunah dalam riwayat Bukhari, (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu sebagaimana wudlu ketika sholat selain kedua kaki), dan ِ (kemudian dia berpindah lalu mencuci kedua kakinya). Dan ini adalah nash akan bolehnya mengakhirkan mencuci kedua kaki ketika mandi, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dan mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan kedua cara ini, terkadang dia mencuci kedua kakiknya ketika wudlu dan terkadang beliau beliau berwudlu namun beliau mengakhirkan mencuci kedua kakinya.30)

Dan hendaknya janganlah dia berlebih-lebihan ketika menggunakan air, jangan telalu berlebih-lebihan dan jangan pula sebaliknya.

LITERATUR PENGUAT :

1) Demikian juga terdapat dalam riwayat Bukhari no 262, namun dengan lafal mufrod.
Sedangkan Abu Dawud juga dengan lafal mutsanna (Fathul Bari 1/374)
2) Riwayat Bukhari no 238
3) Riwayat Bukhari no 249
4) Riwayat Bukhari no 272
5) Riwayat Bukhari no 258
6) Riwayat Bukhari no 248
7) Riwayat Bukhari no 249
8) Riwayat Bukhari no 260,266
9) Riwayat Bukhari no 259
10) Riwayat Bukhari no 259,260
11)Riwayat Bukhari 259
12) Al-Fiqh Al-Islami 1/373
13) Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim
14) As-Syarhul Mumti ’ 1/308-309
15) Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Albani di al-irwa’ no 8 1, yaitu hadits “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudlu dan tidak ada wudlu bagi orang yang tidak menyebutkan nama Allah atasnya
16) Al-Fiqh Al-Islami 1/373
17) Dalilnya adalah hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya penduduk Tho’if berkata :”Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanah (negeri) kami adalah tanah yang dingin, maka mandi apakah yang cukup bagi kami ?, maka Rasulullah berkata : “Adapun saya maka saya mengguyur kepala saya tiga kali” (Riwayat Bukhari no 254), dan hadits ini dijadikan dalil oleh Baihaqi tentang masalah ini ( masalah tidak mengapa mendi tanpa wudlu). Selain itu disebutkan dalam Shohih Sunan Abi Dawud no 244 bahwasanya Rasulullah sholat dengan mandi yang beliau tidak wudlu di mandi tersebut baik sebelumnya maupun sesudahnya. (Tamamul Minnah hal 129)
18) Tamamul Minnah hal 130
19) Tamamul Minnah hal 129
2o) Majmu’ fatawa Syaikh Utsaimin 4/228, 229
21) Majmu’ Fatawa 4/2 27
22) Riwayat Muslim, adapun dalam lafal yang lain “Apakah aku menguraikan rambutku untuk (mandi) karena haidl ?, Rasulullah menjawab :”Tidak”, tambahan ini adalah riwayat yang syadz sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. (Irwaulgolil 1/165)
23) Riwayat Bukhari, dan dalam riwayat yang lain (lepaskan ikatan rambutmu dan bersisirlah), lihat Irwaul golil no 134.
24) Riwayat Abu Dawud dan Ahmad. Hadits ini dho’if (lihat Irwail golil no 133)
25) Riwayat Abu dawud dan Thirmidzi dan keduanya mendlo ’ifkan hadits ini (lihat Subulus Salam)
26) Al-Fiqh l-Islami 1 /373
27) Bukhari (Al-Fath 1/269) dan Muslim 1/22 6
28) Lihat Syarhul ‘Umdah Ibnu Taimiyah 1/368 sesuai dengan hadits ‘Aisyah riwayat Muslim 1/260
29) Al-Fiqh Al-Islami 1/372,3 73. Syaikh Utsaimin berpendapat jika seseorang mandi lalu tidak berkumur-kumur dan beristinsyaq maka mandinya tidak sah ( majmu ’ fatawa 4/229)
30) Irwaul golil 1/170

Ebook Maktabah Abu Salma, “Sifat Mandi Janabat Menurut Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”, Penulis Al-Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin bin ‘Abidin as-Soronji [catatan Abu Ayaz http://www.facebook.com/notes.php?id=1275657261&start=10&hash=cc4bdec44103e75577a529582bd57e17#!/note.php?note_id=197159790683]

๑۩๑ Definisi Ittiba’

PERTANYAAN :

Apa arti atau makna Ittiba’?

Apakah ittiba’ terpuji dalam agama?

 

JAWABAN :

ittiba tidak sama dengan taqlid. arti taqlid lihat “DISINI

Ittiba’ adalah mengikuti satu pendapat dari seorang ulama dengan didasari pengetahuan dalil yang dipakai oleh ulama tersebut. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan penjelasan yang menukil dari perkataan Abu Dawud : “Aku mendengar Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan : Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum” [selesai – lihat I’lamul-Muwaqqi’in 2/139].

Konsep ittiba’ inilah yang tercermin dari perkataan :

Al-Imam An-Nu’man bin Tsabit, Abu Hanifah :

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami sebelum dia mengetahui dari mana kami mengambilnya” [Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 6/293].

Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i :

أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah mendapatkan kejelasan baginya tentang Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena pendapat seseorang” [Al-Fulani halaman 68].

Al-Imam Malik bin Anas :

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Aku ini hanyalah manusia yang terkadang salah terkadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ambillah. Dan yang tidak sesuai maka tinggalkanlah” [Ibnu Abdil-Barr dalam Al-Jami’ 2/32].

Al-Imam Ahmad bin Hanbal :

لا تقلدني، ولا تقلد مالكاً ولا الشافعي ولا الأوزاعي، ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Jangan engkau taqlid kepadaku, dan jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri. Tetapi ambillah darimana mereka mengambil” [Ibnul-Qayyim dalam I’lamul-Muwaqqi’in 2/302].

Sedikit uraian di atas dapat memberikan kejelasan kepada kita bahwa taqlid itu secara umum adalah perkara yang dicela dalam agama; dan ittiba’ adalah perkara yang dipuji dalam agama.

Dalil yang menjadi hujjah bathilnya taqlid adalah firman Allah :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتّبِعُوا مَآ أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَآءَنَآ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.”[QS. Al-Baqarah : 170].

Mungkin sebagian orang merasa bingung mengapa ayat tersebut dijadikan sebagai dalil celaan terhadap taqlid padahal redaksinya memakai kata ittabi’uu (اتّبِعُوا) dan nattabi’ (نَتّبِعُ).

Maka hal ini dapat dijelaskan : Kata tabi’a (تَبِعَ) mempunyai makna bahasa, yaitu : mengikuti. Dan konteks mengikuti dalam ayat tersebut adalah mengikuti hal yang jelek dari perbuatan nenek moyang mereka dimana mereka (kaum kafir ‘Arab) tidak mempunyai hujjah tentang hal itu. Inilah yang disebut para ulama sebagai taqlid; yaitu mengikuti sesuatu tanpa hujjah/dalil (walaupun secara redaksi ayat menggunakan tabi’a). Ini adalah taqlid dalam pengertian istilah sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Mari kita simak apa yang dijelaskan oleh Al-Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya (Al-Jami’u li Ahkaamil-Qur’an – penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 170) :

قال علماؤنا: وقوة ألفاظ هذه الآية تعطي إبطال التقليد

“Telah berkata ulama-ulama kami bahwa kekuatan lafadh-lafadh yang terkandung dalam ayat ini menandakan batalnya taqlid” [selesai].

Al-Imam Asy-Syaukani dalam Fathul-Qadir (penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 170) berkata :

وفي هذه الآية من الذم للمقلدين والنداء بجهلهم الفاحش واعتقادهم الفاسد ما لا يقادر قدره

“Dalam ayat tersebut terdapat celaan terhadap para muqallid (orang-orang yang taqlid), dan menyerukan kejahilan dan aqidah mereka yang rusak, yang tidak lagi mempunyai nilai” [selesai].

Kebalikan dari itu, di sisi lain Allah menggunakan kata tabi’a dalam makna positif dan terpuji. Allah berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبّونَ اللّهَ فَاتّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رّحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali ‘Imran : 31].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat tersebut :

هذه الاَية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر حتى يتبع الشرع المحمدي, والدين النبوي في جميع أقواله وأفعاله وأحواله

“Ayat yang mulia ini sebagai hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah, akan tetapi tidak mengikuti sunnah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena orang seperti ini berarti dusta dalam pengakuan cintanya kepada Allah sampai dia ittiba’ kepada syari’at agama Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam segala ucapan dan tindak tanduknya” [selesai].

Mengikuti Allah dan Rasul ekuivalen dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini tentu berbeda dengan ayat celaan terhadap taqlid (QS. Al-Baqarah : 170) dimana “mengikuti” dalam ayat tersebut dalam konteks mengikuti kebiasaan nenek moyang. Nenek moyang bukanlah hujjah. Di sinilah perbedaan dua sisi “mengikuti” – antara taqlid dan ittiba’.

 

⊰⊱ PustakaSunnah.Wordpress.Com ⊰⊱
Literatur

catatan Abul Jauzaa [http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/07/taqlid-dan-sedikit-penjelasan-tentang.html]

๑۩๑ Definisi Taqlid

PERTANYAAN :

Apa itu taqlid?

Apakah taqlid terpuji dalam agama?

JAWABAN :

Secara bahasa (lughowi) taqliid bermakna :

Kata taqliid (تَقْلِيْدٌُ) adalah mashdar dari qallada – yuqallidu (قَلَّدَ – يُقَلِّدُ). Secara bahasa, ia adalah bermakna :

وضع الشيء في العنق محيطاً به كالقلادة

”Meletakkan sesuatu di leher dengan melilitkannya seperti kalung” [Al-Ushul min ’Ilmil-Ushul oleh Ibnu ’Utsaimin hal. 49 – Maktabah Al-Misykah. Definisi yang serupa dikatakan pula oleh Asy-Syinqithi dalam Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 305 – Cet. Multaqaa Ahlil-Hadiits].

Secara istilah (syari’at) taqliid bermakna :

قبول قول الغير من غير معرفة دليله

”Menerima satu perkataan tanpa mengetahui dalilnya” [Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 306 – Cet. Multaqaa Ahlil-Hadiits].

اتباع من ليس قوله حجة

”Mengikuti orang yang perkataannya bukan hujjah” [Al-Ushul min ’Ilmil-Ushul oleh Ibnu ’Utsaimin hal. 49 – Maktabah Al-Misykah].

العمل بقول الغير من غير حجة

”Satu perbuatan yang didasarkan oleh satu perkataan tanpa hujjah” [Irsyaadul-Fuhuul oleh Asy-Syaukani juz 2 hal. 51 – Maktabah Al-Misykah].

Al-Amidy mendefinisikan hal yang mirip dengan Asy-Syaukani [Ihkaamul-Ahkaam 4/220].

Apakah taqlid itu terpuji dalam ilmu ?

Al-Hafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah dalam kitabnya yang masyhur : Jami’u Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal. 36-37 mengatakan :

العلم عند العلماء المتكلمين في هذا المعنى هو ما استيقنته وتبينته وكل من استقن شيئا وتبينه فقد علمه وعلى هذا من لم يستيقن الشيء وقال به تقليدا أفلم يعلمه والتقليد عند جماعة العلماء غير الاتباع لأن الاتباع هو ان تتبع القائل على ما بان لك من فضل قوله وصحة مذهبه والتقليد أن تقول بقوله وأنت لا تعرفه ولا وجه القول ولا معناه

“Definisi ilmu menurut ulama adalah : Sesuatu yang kamu perdalami dan kamu pahami, dan setiap orang yang mendalami sesuatu dan memahaminya maka sesungguhnya dia mengetahui. Atas dasar ini, maka orang yang tidak mendalami sesuatu, lalu ia mengatakannya karena taqlid, maka dia tidak mengetahuinya. Sedangkan taqlid menurut ulama adalah bukan ittiba’ (mengikuti). Sebab ittiba’ adalah bila kamu mengikuti orang yang berpendapat tentang sesuatu yang telah kamu ketahui keshahihan (kebenaran) pendapatnya. Sedangkan taqlid adalah bila kamu mengatakan pendapat seseorang dan kamu tidak mengetahui arah dan arti pendapat tersebut” [selesai].

Bahkan Ibnu Abdil-Barr menulis dalam kitabnya tersebut satu bab khusus yang berjudul : Kerusakan Taqlid dan Penafikannya; Serta Perbedaan Antara Taqlid dan Ittiba’ [باب فساد التقليد ونفيه والفرق بين التقليد والاتباع]. Pada bab tersebut beliau menukil perkataan salah seorang pembesar ulama Malikiyyah yang bernama : Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad Al-Bashri Al-Maliki :

وقال أبو عبد الله بن خويز منداد البصري المالكي التقليد معناه في الشرع الرجوع إلى قول لا حجة لقائله عليه وذلك ممنوع منه في الشريعة والاتباع ما ثبت عليه حجة وقال في موضع آخر من كتابه كل من ابتعت قوله من غير أن يجب عليك قوله لدليل يوجب ذلك فأنت مقلده والتقليد في دين الله غير صحيح وكل من أوجب عليك الدليل اتباع قوله فأنت متبعه والاتباع في الدين مسوغ والتقليد ممنوع

Dan berkata Abu ‘Abdillah bin Khuwaiz Mindad Al-Bashri Al-Maliki : “Makna taqlid dalam syari’at adalah merujuk suatu pendapat yang tidak memiliki hujjah, dan yang demikian itu adalah dilarang dalam syari’at. Sedangkan ittiba’ adalah (merujuk) pada satu pendapat yang disertai hujjah (dalil)”. Dan beliau berkata di tempat yang lain : “Setiap orang yang Engkau ikuti perkataannya tanpa ada dalil yang mengharuskan hal itu, maka Engkau adalah orang yang taqlid kepadanya. Sementara taqlid tidaklah dibenarkan dalam agama Allah. Setiap orang yang Engkau ikuti karena adanya dalil yang mengharuskan Engkau mengikuti pendapatnya, maka Engkau dianggap ittiba’ (mengikutinya). Ittiba’ adalah hal yang diperkenankan dalam agama sedangkan taqlid adalah hal yang dilarang” [selesai – lihat Jami’u Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlihi 2/117].

Imam As-Suyuthi berkata : “Sesungguhnya orang yang taqlid itu tidak dinamakan orang yang berilmu” [Dinukil As-Sindi dalam hasyiyah-nya/ terhadap Sunan Ibni Majah 1/7 dan dia menetapkannya].

Bagaimana bisa seorang yang taqlid (muqallid) dinamakan sebagai orang yang berilmu padahal ia hanya mendasarkan perkataan dan perbuatannya hanya dengan konsep “ikut-ikutan” ? Hakekat seorang muqallid , tidaklah membangun amalnya dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pengetahuan ijma’.

taqlid berbeda dengan ittiba’. lihat “DISINI

⊰⊱ PustakaSunnah.Wordpress.Com ⊰⊱
Literatur

catatan Abul Jauzaa [http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/07/taqlid-dan-sedikit-penjelasan-tentang.html]

%d blogger menyukai ini: