๑۩๑ Apa Itu Hadist Shohih ? (Pelajaran Ringan Tentang Ilmu Hadist)

Pedoman hidup seorang muslim yang paling pokok dan paling agung adalah Al-Quran dan Hadist. (sesudahnya ada ijma dan qiyas) Kedua pedoman pokok tersebut merupakan sumber tertinggi aturan-aturan syariat karena benar-benar merupakan wahyu yang diwahyukan Alloh kepada diri Rasululloh Shalallohu ‘alaihi Wasallam

Alloh berfirman :

Dan tiadalah yang diucapkannya (Rasululloh) itu menurut kemauan hawa nafsunya

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.

[An-Najm (53) : 3-4]

Adapun tentang Al-Quran, Alloh Ta’ala berfirman [Al-Hijr (15) : 9] :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya

Ayat diatas menunjukan bahwasanya Al-Quran adalah wahyu yang terjaga dan dijaga langsung oleh Alloh Azza wa Jalla. Setiap muslim meyakini keotentikannya karena Al-Quran telah diriwayatkan secara mutawatir hingga sampai kepada kita saat ini.

Sementara itu, Hadist memiliki derajat tersendiri, sehingga siapa yang hendak mengambil suatu Hadist sebagai dalil, dia membutuhkan 2 kali penelitian. yakni;

Pertama : meneliti keabsahan/validitas Hadist tersebut sehingga nyata benar-benar berasal dari Rasululloh atau diriwayatkan Para sahabatnya

Kedua : meneliti indikasi hukum yang diisyaratkan dari Hadist tersebut sehingga tidak salah kaprah memaknai Hadist tersebut.

Kedua penelitian ini sangat dibutuhkan dengan berbagai alasan, diantaranya :

1. pada mulanya Rasululloh Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam memang menahan para sahabat dari melakukan pencatatan terhadap Hadist demi menjaga dari bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran,

Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus, [HR Muslim, Kitab : Zuhud dan kelembutan hati, Bab;Hukum menulis hadits]

Hadist mulanya hanya dihapalkan oleh para sahabat Radiallohu An’hum dan hanya ayat Al-Quran saja yang dicatat, sehingga akurasi dari sesuatu yang dihapal tentu berbeda dengan sesuatu yang dicatat.

2. mengatakan Nabi telah menyabdakan sesuatu padahal sesuatu itu bukanlah sabda Nabi dan si periwayat sendiri ragu tentang keabsahan sabda tersebut  namun tetap dinukil, maka ini bisa dihukumi dusta.

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shohihain, hal. 8 )

3. dusta atas nama Nabi jauh lebih besar dosanya, lebih besar mudhoratnya bagi diri, dan lebih luas kerusakannya bagi umat.

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 8 )

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta secara sengaja atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 9)

Diantara dua penelitian yang disebutkan diatas, maka penelitian pertama membutuhkan berbagai metode, kaidah, dan aturan yang dapat membedakan keabsahan setiap Hadist. Sehingga dengannya menjadi jelas manakah hadist yang dapat diterima atau hadist yang ditolak.

Alhamdulillah, para ulama telah mengupayakan hal tersebut dan menamakannya dengan ilmu musthalahul Hadist. Dalam ilmu inilah dibahas tentang bagaimana menilai suatu Hadist dan kondisi periwayatnya, apakah hadist tersebut Shohih diriwayatkan dari Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wa Sallam ataukah tidak. Apakah Maqbul (diterima) atau Mardud (ditolak)

Demikian sekedar muqaddimah awal, dari penjelasan ini minimal kita menyadari sisi pentingnya ilmu musthalahul hadist ini. Dan kini sesuai permintaan sebagian ikhwah, kami paparkan uraian singkat seputar derajat Hadist yang kami kumpulkan dari berbagai literatur terpercaya yakni ; apa itu arti Hadist Shohih, Hadist Hasan, Hadist Shohih Lighairihi, dan Hadist Hasan Lighairihi.

Dalam definisi hadist tersebut akan ada istilah yang mungkin asing bagi sebagian ikhwah maka disini kami dahulukan definisi istilah-istilah tersebut.

۞  Hadist = sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shalallohu ‘Alaihi wasallam berupa ucapan (Qauly), perbuatan (Fi’ly), dan ketetapan (Taqriir, yakni diamnya Nabi atas tindakan Para sahabat yang menunjukan Nabi Ridho dengan Hal tersebut).

۞  Isnad = sanad = mata rantai perawi hadist yang menghantarkan Hadist dari satu rowi kepada rowi lainnya hingga hadist tersebut tercatat dalam suatu kitab.

Sanad dimulai dari penyampai yang awal (yakni sebelum pencatat Hadist) dan berakhir pada seorang sebelum Rasululloh yakni Sahabat. Untuk mempermudah ana beri contoh : Imam Bukhori Rahimahulloh meriwayatkan suatu hadist. Maka beliau ini dikatakan Mukharrij atau Mudawwin (yang mengeluarkan atau mencatat Hadist). Jika dalam catatan beliau dikatakan bahwa hadist tersebut dinukil dari “A”, Si “A’ ini sendiri mendengar Hadist tersebut dari “B”, terus hingga C, D, E dan si “E” inilah yang mendengar langsung dari Nabi Shalallohu ‘alaihi wa Sallam, maka dalam konteks tersebut, si “A” adalah sanad pertama dan “E” sanad terakhir dan mata rantai yang menghubungkan antara A hingga E disebut Isnad (jamak/plural) atau cukup disebut sanad.

۞  Matan = sesuatu yang berada di akhir sanad sebagai sesuatu yang dihantarkan oleh sanad tersebut dan ia berupa ucapan atau perbuatan yang mengandung muatan hukum atau faidah dan merupakan isi dari Hadist itu sendiri.

Sebagai contoh kita angkat hadist (tidak shohih lidzaatihi) berikut ini :

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عِيسَى قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُمُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Isa berkata, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari ‘Abdulloh bin Abu Bakar bin ‘Amru bin Hazm dari ‘Abbad bin Tamim dari ‘Abdulloh bin Zaid, bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam berwudlu dua kali dua kali.”

[Hadist Riwayat Bukhari dalam Kitab : Wudlu Bab : Berwudlu’ dua kali dua kali]

Hadist diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Sanad pertamanya adalah Husain bin Isa, dan sanad terakhirnya adalah Abdulloh bin Zaid. Sedangkan matan Hadistnya adalah bukan berupa ucapan (Qauly) tapi berupa perbuatan Nabi (Fi’ly) yakni ; “Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam berwudlu dua kali dua kali”

Lalu sekarang apa itu hadist Shohih, Hadist Hasan, Hadist Shohih Lighairihi, dan Hadist Hasan Lighairihi

۞  Hadist shohih adalah hadist yang memenuhi syarat sah, yakni keadaan sanadnya tidak ada syak/keraguan/kejanggalan baik dari sisi mata rantai para periwayatnya (yakni semua rowinya adalah rowi yang tsiqoh/terpercaya -baik sisi kejujurannya maupun daya hapalnya) ataupun dari sisi tersambungnya sanad (yakni tidak terputus hingga para sahabat) dan diriwayatkan oleh seorang yg adil dan memiliki dhabt (akurasi) yg sempurna

۞  Hadist Shohih Lighairihi adalah hadist dimana syarat-syarat hadist shohih telah terkumpul padanya, hanya saja derajat akurasi perawinya ada yang dalam keadaan kurang namun kekurangan ini bisa tertutupi oleh berbagai jalan hadist.

۞  Hadist Hasan adalah hadist dimana syarat-syarat hadist shohih telah terkumpul padanya, hanya saja derajat akurasi perawinya dalam keadaan kurang dan kekurangan ini tidak bisa ditutupi lewat berbagai jalan hadist.

۞  Hadist Hasan Lighairihi adalah Hadist yang mulanya berderajat hadist dho’if (lemah) akan tetapi kedhoifannya ini dapat ditutupi dengan banyaknya penguat dari jalur lain sehingga lebih dominan untuk diterima daripada ditolak.

Sebagai contoh untuk mempermudah pemahaman maka mari kembali kita kupas Hadist diatas, yakni

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عِيسَى قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Isa berkata, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari ‘Abdulloh bin Abu Bakar bin ‘Amru bin Hazm dari ‘Abbad bin Tamim dari ‘Abdulloh bin Zaid, bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam berwudlu dua kali dua kali.”

[Hadist Riwayat Bukhari dalam Kitab : Wudlu Bab : Berwudlu’ dua kali dua kali]

Hadist diatas bila baru ditinjau parsial secara sanad maka bukan hadist shohih secara dzat (lidzaatihi) karena ada seorang perowinya yang dikomentari Ibnu Hajar al ‘Asqalani sebagai Shaduuq tapi banyak salah, yakni Fulaih bin Sulaiman bin Abi Mughirah Abu Yahya Al Madani. Dia sebenarnya seorang yang benar dan satu thobaqoh dengan Imam Malik, hanya saja lemah sisi hapalannya sehingga jika dia meriwayatkan seorang diri dan tidak ada yang menguatkan dari jalur/jalan lain maka hadistnya Dho’if.

Akan tetapi ternyata Hadist dari fulaih ini telah ada jalan lain yang menguatkan dari jalur Abdulloh bin Zaid, dan juga ada syahidnya dari Abu Hurairoh. Yakni :

Dari Abu Hurairoh Radhiallohu Anh ; “ bahwasanya Nabi Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah berwudhu dua kali-dua kali”. (HR = Hadist Riwayat. Abu Dawud no. 136) (HR. Ahmad No. 7864) (HR. Tirmidzi No. 430) [lihat takhrijnya di Takhrij Sunan Abi Dawud no. 138]

Nah! Dengan demikian riwayat Fulaih diatas menjadi kuat, yakni menjadi Hadist Shohih Lighairihi.

Jadi, sebuah hadist itu dikatakan isnadnya/sanadnya Dho’if yakni bila terdapat cacat disebabkan kelemahan sebagian rowinya, atau juga karena sanadnya terputus, Akan tetapi tidak serta merta hadist tersebut langsung divonis sebagai Hadist Dho’if. Karena adakalanya hadist tersebut mempunyai jalan lain yang menguatkannya sehingga dari dhoif naik menjadi Hasan lighairihi atau Shohih Lighairihi. Atau mungkin ada syahid dari jalan sahabat lain yang menguatkannya. Semua ini tentu dengan syarat bahwa jalan lain dan atau syahid lain tersebut tidak lebih lemah daripadanya. Minimal seimbang atau lebih ringan kelemahannya. Sehingga eksekusi vonis terakhir apakah Hadist tersebut diterima atau ditolak adalah bila ia memenuhi semua keadaan yang diuraikan diatas, yakni bila ia masuk kategori hadist Shohih, Hadist Hasan, Hadist Shohih Lighairihi, dan Hadist Hasan Lighairihi. Sedangkan bila dibawah itu maka ia disebut hadist yang Mardud (ditolak).

[Abu Haydar As-Sulaify]

[ PustakaSunnah.Wordpress.Com ]

About these ads

About pustakasunnah

Tolabul ilmi

Posted on September 15, 2010, in ۞ Sunnah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Izin Copas Atau Komentar Silahkan Diketik Pada Kolom Dibawah Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: