๑۩๑ Definisi Ittiba’

PERTANYAAN :

Apa arti atau makna Ittiba’?

Apakah ittiba’ terpuji dalam agama?

 

JAWABAN :

ittiba tidak sama dengan taqlid. arti taqlid lihat “DISINI

Ittiba’ adalah mengikuti satu pendapat dari seorang ulama dengan didasari pengetahuan dalil yang dipakai oleh ulama tersebut. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan penjelasan yang menukil dari perkataan Abu Dawud : “Aku mendengar Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan : Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum” [selesai – lihat I’lamul-Muwaqqi’in 2/139].

Konsep ittiba’ inilah yang tercermin dari perkataan :

Al-Imam An-Nu’man bin Tsabit, Abu Hanifah :

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil pendapat kami sebelum dia mengetahui dari mana kami mengambilnya” [Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 6/293].

Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i :

أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah mendapatkan kejelasan baginya tentang Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena pendapat seseorang” [Al-Fulani halaman 68].

Al-Imam Malik bin Anas :

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Aku ini hanyalah manusia yang terkadang salah terkadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ambillah. Dan yang tidak sesuai maka tinggalkanlah” [Ibnu Abdil-Barr dalam Al-Jami’ 2/32].

Al-Imam Ahmad bin Hanbal :

لا تقلدني، ولا تقلد مالكاً ولا الشافعي ولا الأوزاعي، ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Jangan engkau taqlid kepadaku, dan jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri. Tetapi ambillah darimana mereka mengambil” [Ibnul-Qayyim dalam I’lamul-Muwaqqi’in 2/302].

Sedikit uraian di atas dapat memberikan kejelasan kepada kita bahwa taqlid itu secara umum adalah perkara yang dicela dalam agama; dan ittiba’ adalah perkara yang dipuji dalam agama.

Dalil yang menjadi hujjah bathilnya taqlid adalah firman Allah :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتّبِعُوا مَآ أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَآءَنَآ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.”[QS. Al-Baqarah : 170].

Mungkin sebagian orang merasa bingung mengapa ayat tersebut dijadikan sebagai dalil celaan terhadap taqlid padahal redaksinya memakai kata ittabi’uu (اتّبِعُوا) dan nattabi’ (نَتّبِعُ).

Maka hal ini dapat dijelaskan : Kata tabi’a (تَبِعَ) mempunyai makna bahasa, yaitu : mengikuti. Dan konteks mengikuti dalam ayat tersebut adalah mengikuti hal yang jelek dari perbuatan nenek moyang mereka dimana mereka (kaum kafir ‘Arab) tidak mempunyai hujjah tentang hal itu. Inilah yang disebut para ulama sebagai taqlid; yaitu mengikuti sesuatu tanpa hujjah/dalil (walaupun secara redaksi ayat menggunakan tabi’a). Ini adalah taqlid dalam pengertian istilah sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Mari kita simak apa yang dijelaskan oleh Al-Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya (Al-Jami’u li Ahkaamil-Qur’an – penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 170) :

قال علماؤنا: وقوة ألفاظ هذه الآية تعطي إبطال التقليد

“Telah berkata ulama-ulama kami bahwa kekuatan lafadh-lafadh yang terkandung dalam ayat ini menandakan batalnya taqlid” [selesai].

Al-Imam Asy-Syaukani dalam Fathul-Qadir (penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 170) berkata :

وفي هذه الآية من الذم للمقلدين والنداء بجهلهم الفاحش واعتقادهم الفاسد ما لا يقادر قدره

“Dalam ayat tersebut terdapat celaan terhadap para muqallid (orang-orang yang taqlid), dan menyerukan kejahilan dan aqidah mereka yang rusak, yang tidak lagi mempunyai nilai” [selesai].

Kebalikan dari itu, di sisi lain Allah menggunakan kata tabi’a dalam makna positif dan terpuji. Allah berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبّونَ اللّهَ فَاتّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رّحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali ‘Imran : 31].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat tersebut :

هذه الاَية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر حتى يتبع الشرع المحمدي, والدين النبوي في جميع أقواله وأفعاله وأحواله

“Ayat yang mulia ini sebagai hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah, akan tetapi tidak mengikuti sunnah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena orang seperti ini berarti dusta dalam pengakuan cintanya kepada Allah sampai dia ittiba’ kepada syari’at agama Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam segala ucapan dan tindak tanduknya” [selesai].

Mengikuti Allah dan Rasul ekuivalen dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini tentu berbeda dengan ayat celaan terhadap taqlid (QS. Al-Baqarah : 170) dimana “mengikuti” dalam ayat tersebut dalam konteks mengikuti kebiasaan nenek moyang. Nenek moyang bukanlah hujjah. Di sinilah perbedaan dua sisi “mengikuti” – antara taqlid dan ittiba’.

 

⊰⊱ PustakaSunnah.Wordpress.Com ⊰⊱
Literatur

catatan Abul Jauzaa [http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/07/taqlid-dan-sedikit-penjelasan-tentang.html]

About pustakasunnah

Tolabul ilmi

Posted on Juni 17, 2010, in TOPIK, ۞ Ittiba'. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ASS,,,,,,,Mas maaf saya izin mengcopy blognya yah,,? lbih tmbh blog yah..??

  2. assalamu alaikum…
    afwan, ana izin copy…

Izin Copas Atau Komentar Silahkan Diketik Pada Kolom Dibawah Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: