Begaimana Mencicipi Manis Iman

Lanjutan pembahasan Kitab At-Tauhid LKIBA Ma’had As-Salafy Jember.

ولهما عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه ، كما يكره أن يقذف في النار » .

وفي رواية : « لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله » إلى آخره .

“Dan dalam riwayat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada tiga perangai atau sifat yang jika ada pada diri seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, (2) Mencintai seseorang, yang dia tidak mencintai orang tersebut kecuali karena Allah, (3) Membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafazh: “Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai seseorang, dan tidaklah kecintaannya itu kecuali karena Allah …” -sampai akhir hadits-.

Penjelasan hadits

Tidak semua orang yang beriman akan merasakan kelezatan imannya. Sebagaimana seseorang yang memiliki makanan, belum tentu dia bisa merasakan lezatnya makanan itu. Iman yang dimiliki seseorang akan bisa dirasakan lezatnya oleh orang tadi sehingga iman itu akan bisa menyenakan hati dia, dan dia bisa merasakannya nikmatnya ketaatan, meskipun kelihatannya lelah dan habis waktunya untuk melakukan ibadah.

Manisnya iman adalah sesuatu yang didapati oleh manusia dalam hatinya berupa ketenangan dan kelapangan dada, dia merasa senang dengan iman tersebut dan tidak merasa terbebani.

Dan rasa manis (حَلاَوَة) di sini bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan oleh lisan ini. Akan tetapi yang dimaksud halawah ini adalah halawah qalbiyyah. Jika seseorang ingin mendapatkan halawah iman ini, maka dia harus mempunyai tiga sifat/perangai sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut.

Yang Pertama

Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya. Ini adalah perkara yang berat kecuali bagi orang yang mau bersungguh-sungguh untuk mengorbankan dirinya demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Seseorang yang mencintai istri ataupun orang tuanya, ketika dihadapkan pada kepentingan Allah dan Rasul-Nya, maka dia harus mendahulukan kepentingan Allah dan Rasul-Nya tersebut, ini membutuhkan mujahadah (kesungguhan).

Dan di antara tanda seseorang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dia mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, dia mengutamakan keridhaan Allah daripada selain-Nya, dia juga mengikuti jejak Rasul-Nya, melaksanakan perintah beliau dan menjauhi larangannya.

Taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaiman disebutkan dalam ayatul mihnah:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ.

“Katakanlah wahai Muhammad, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)

Yang Kedua

Mencintai seseorang, dan tidaklah dia mencintai orang tersebut kecuali karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi. Mencintai seseorang karena dia adalah orang yang taat kepada Allah, atau karena dia adalah orang yang beriman, meskipun orang yang dicintai tadi adalah orang yang fakir.

Mencintai seseorang banyak sebabnya, mungkin karena kekerabatan, teman, atau karena ingin mendapatkan kepentingan duniawi. Barang siapa yang mencintai sesorang karena Allah, maka ini akan menjadi sebab untuk bisa merasakan manisnya iman. Sehingga kita hendaknya bisa mengoreksi diri kita, apakah kecintaan kita kepada orang lain itu disebabkan karena Allah atau karena adanya kepentingan lainnya.

Yang Ketiga

Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.

Kebencian kembali kepada kekufuran disamakan dengan kebencian untuk dilemparkan ke dalam api neraka. Ini menunjukkan sangat bencinya dia kepada kekufuran dan tentunya benci pula kepada pelaku kekufuran. Orang yang merasakan kenikmatan dan manisnya iman tidak akan senang kembali kepada kekufuran setelah dia mendapatkan hidayah.

Inilah tiga sifat/perangai yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, barang siapa yang tiga sifat tersebut ada pada diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Dan ini dipahami bahwa seseorang tidak akan bisa merasakan manisnya iman kecuali dengan adanya tiga sifat ini. Sebagaimana dalam hadits yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah setelahnya yaitu

لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله.

“Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai seseorang, dan tidaklah kecintaannya itu kecuali karena Allah.”

Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini, di antaranya[1]:

1.       Menetapkan adanya manisnya iman yang bisa dirasakan, dan setiap mukmin belum bisa merasakan manisnya iman sampai dia memiliki tiga sifat tersebut.

2.       Keutamaan dan kewajiban mendahulukan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya daripada kecintaan kepada selain keduanya.

3.       Mencintai seseorang karena Allah merupakan tanda keimanan.

4.       Wajibnya membenci kekufuran dan juga sekaligus orang kafir, karena orang yang membenci sesuatu, maka dia juga harus membenci orang yang melakukan sesuatu tersebut.

5.       Barangsiapa yang memiliki tiga sifat ini, maka dia lebih utama dari orang yang tidak memilikinya, walaupun orang yang memilikinya ini dulunya kafir yang kemudian masuk Islam, atau dulunya bergelimang dengan kemaksiatan kemudian bertaubat darinya. Ini lebih utama daripada yang tidak memiliki tiga sifat tersebut sama sekali.


[1] Dinukil dari kitab Al-Jadid Fi Syarhi Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil ‘Aziz Al-Qar’awi rahimahullah dan kitab Al-Mulakhkhash Fi Syarhi Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah.

sumber :  http://www.assalafy.org/mahad/?p=487#more-487

About pustakasunnah

Tolabul ilmi

Posted on Juni 22, 2010, in TOPIK, ۞ Iman. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Izin Copas Atau Komentar Silahkan Diketik Pada Kolom Dibawah Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: