๑۩๑ Ahlussunnah, Tersenyumlah

Pernah suatu saat aku berkunjung ke kajian insidentil yang membahas perihal agungnya Sunnah. Banyak di antara hadirin yang datang mengajak anak dan istrinya. Senang rasanya melihat mereka berduyun – duyun ramai untuk menuntut ilmu syar’ie…

Aku ucapkan,” assalamu’alaikum…” pada salah seorang hadirin.

“Wa’alaikumussalaam…” jawab-nya seraya sedikit menoleh kepadaku tanpa ada seutas senyum yang sejuk dipandang dari wajahnya. Bahkan yang ada, hanyalah wajah yang terkesan “meremehkan”. Hmmm…

Mungkin, dia memang sedang sibuk…atau sedang ada pikiran, atau sedang muraja’ah hafalan, dan atau sedang memiliki udzur yang lain…

Akan tetapi…

Sedikit saja raut muka “masam” yang dia tunjukkan kepadaku, sedikit membuat sebuah goresan di hatiku…

Ya, wajah masam memanglah sebuah gambaran wajah yang murung, terlihat SANGAR atau bahkan sedang memiliki rasa benci. Aku amat khawatir pada saudaraku tadi, “masam”-nya wajah dan acuh-nya dia dalam menjawab salamku, menunjukkan keangkuhan, kerasnya tabi’at atau bahkan sikapnya yang cenderung meremehkan orang lain…

Akan tetapi, semoga ada udzur yang mengiringinya, sehingga aku dapat memaklumi…

Saudaraku…terkhusus bagi kita yang mengaku ahlus sunnah salafiyyun, pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat –ridwanallahu ‘alaihim jami’an…

Tidak tahukah engkau bahwa senyuman manismu akan mendatangkan rasa cinta saudaramu…?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa senyuman akan mendatangkan rasa cinta dan perhatian orang lain. Manusia tentu akan senang melihat wajah – wajah ramah dan “sumringah”. Dengan senyuman, seorang ayah dihargai oleh anaknya, dengan senyuman…seorang istri akan disayang suaminya. Dengan senyuman, seorang ustadz akan mudah menyampaikan ilmu pada santrinya…Dan dengan senyuman pula, pimpinan akan sehargai oleh bawahannya.

Allah ta’ala katakana dalam kitab-Nya:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS. Ali Imran: 159)

Ya…cara menarik perhatian manusia memang tidaklah melulu dengan harta. Lebih dari itu, manusia akan teramat suka ketika mendapatkan senyuman yang tulus dan ikhlash. Dan sebuah pepatahpun bahkan mengatakan…

“Orang yang punya senyuman, akan dikenang karena senyumannya…” (dari Kitab Majma’Ahkam wal Amtsal, hlm. 215)

Wahai saudaraku, ahlus sunnah…

Pastilah engkau tahu bahwa tersenyum itu sedekah yang teramat murah dan mudah…

Jikalau sedekah harta akan menyenangkan raga seorang manusia, maka senyumanlah yang akan menambah kesenangan jiwa-nya. Dan sebab inilah senyum itu disebut sedekah. Sebagaimana nabi katakana:

“Senyummu untuk saudaramu, adalah sedekah bagimu…” (HR. At Tirmidzi, No. 1956, dikatakan shahih oleh Asy Syaikh Albaniy dalam buku beliau Ash Shahihah: 572)

Terhadap orang yang terkenal preman-pun, jika kita bersikap santun dan murah senyum terhadapnya, bisa jadi dia akan baik pada kita. Bukankah Nabi telah mencontohkan pada kita tentang hal ini…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu bermuka manis dan tersenyum tatkala menghadapi pembesar kaum munafiqin, ‘Abdullah bin ‘Ubay bin Salul. (Lihat Shahih Al Bukhari, No. 5685)

Wahai saudaraku ahlus sunnah…

Mungkin engkau baru tahu bahwa senyuman itu bisa membuatmu awet muda…

Di dalam buku Ibtasim hlm. 41 disebutkan banyak penelitian yang membuktikan saat marah, sedih dan masam aliran darah menuju otak akan terhambat oleh hormonal – hormonal yang ditimbulkan oleh kelenjar bening otak. Otomatis otak akan kekurangan oksigen. Sedangkan saat manusia tersenyum, kelenjar bening otak tidak terpicu mengeluarkan hormone jahat yang dapat menghambat laju oksigen. Jadi oksigen bisa bebas langsung ke otak, dan awet muda-lah jika otak selalu tersuplai oksigen secara utuh…

Wahai saudaraku ahlus sunnah…

Kita adalah kaum yang wasath, kaum pertengahan, kaum yang proporsional…

Tersenyum itu baik…

Akan tetapi senyum terus – terusan juga agak gimanaaaaa gitu…

Bisa – bisa kita disangka yang tidak – tidak…

Cemberut dan muka masam-pun boleh…

Akan tetapi jangan bermuka masam terus…

Jangan citrakan sebuah imej bahwa,” Ahlus Sunnah itu kudu berwajah SANGAR…!”

Sekali – sekali jangan…

Maka hendaklah kita bersikap proporsional.

Dan terakhir, sebelum aku tidur.

Aku berdoa pada Allah ta’ala…

Semoga raut masam saudaraku pada saat ta’lim tadi, bukanlah sebuah senyuman tahdzir untukku.

Bukanlah sebuah senyuman yang menunjukkan kekecewaannya padaku…

Sebagaimana senyuman kecewa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ka’ab bin Malik yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Ka’ab bin Malik berkata…

“Aku datang memenuhi panggilan Rasulullah, tatkala aku tiba, kuucapkan salam padanya, eliau tersenyum… akan tetapi dengan senyuman yang menunjukkan kekecewaan. Dan beliau berkata,” kemarilah…” Akupun mendekat hingga aku duduk persis di hadapannya. Beliaupun berkata,” Kenapa engkau tidak ikut Perang Tabuk???” (HR. Al Bukhari, No. 4677)

Dari saudaramu, Didit Fitriawan yang menulis catatan ini dengan senyuman. 21 Februari 2011 di Sidoarjo. (dipost di fitrahfitri.wordpress.com)

[PustakaSunnah.Wordpress.Com]

About pustakasunnah

Tolabul ilmi

Posted on April 3, 2011, in ۞ Motivasi, ۞ Nasehat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Izin Copas Atau Komentar Silahkan Diketik Pada Kolom Dibawah Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: