๑۩๑ Ringkasan Shaum Ramadhan

Dalam setiap urusan pasti ada tiga bagian, yakni sebelum – ketika – sesudah

Ibnu Taimiyah menyatakan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal.

Maka terkait shaum Ramadhan, apa persiapan anda sebelum memasuki shaum ramadhan, disini kami ringkas paparannya.

NIAT YANG LURUS

semua amal akan sia-sia jika tidak diawali “NIAT YANG BENAR”. dan semua amalan dibalasi menurut niatnya. 

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab)

maka dalam berpuasa niatkanlah karena Alloh ta’ala dan balasan dari-Nya, sebagaimana disampaikan dalam Hadits :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

jangan berniat sekedar karena ikut-ikutan, diet, dsb, karena niat yang benar itu adalah niatan yang diarahkan kepada Taqwa. ikut-ikutan, diet, malu sama tetangga, dsb dsb, semua niatan ini tak ada hubungannya dengan ketaqwaan kepada Alloh Ta’ala.

niat dalam berpuasa tidak perlu dilakukan secara jama’ah, pun tidak perlu dilafadzkan.

karena niat itu letaknya didalam hati. melafadzkan niat secara berjamaah tidak ditemukan panduannya dalam AlQuran dan As-Sunnah sebagaimana perkataan Ibnu Taymiyah :

“Melafadzkan niat tidak diwajibkan dan tidak pula disunnahkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.”

(Majmu’ Al-Fatawa: 22/218-219) Dan dalam (22/236-237)

kapan waktunya kita berniat?

yakni boleh kapan saja sejak masuk waktu malam hingga sebelum adzan shubuh (sepanjang malam). sebagaimana disabdakan : 

“Barangsiapa yang tidak niat untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”

[Hadits Riwayat Abu Dawud 2454, Ibnu Majah 1933, Al-Baihaqi 4/202 dan sanadnya shahih]

MENGILMUI MASALAH SAHUR

Sunnah utama yang mengawali puasa adalah sahur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ

Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”

(HR. Ahmad 3/367. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini derajatnya hasan)

Nabi kita shallollahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Dari Anas bin Malik radhiyallaohu ‘anhu, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.”

[HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095]

An Nawawi rahimahulloh mengatakan, “Karena dengan makan sahur akan semakin kuat melaksanakan puasa.”(Al Majmu’, 6/359)

Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab). Dari Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur.

(HR. Muslim no. 1096)

Sahur ini hendaknya tidak ditinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ

Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Alloh dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3/12, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar

عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ فِينَا رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُورَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ السُّحُورَ قَالَتْ أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُورَ قُلْتُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ قَالَتْ هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ

Dari Abu Athiyyah beliau berkata: Aku berkata kepada ‘Aisyah: di tengah-tengah kami ada dua orang Sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Yang satu menyegerakan ifthor (berbuka) dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang lain mengakhirkan ifthor dan mengawalkan sahur. Aisyah berkata: Siapa yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur? Aku berkata: Abdulloh bin Mas’ud. Aisyah berkata: Demikianlah yang dilakukan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam (Hadits shahih riwayat Nasaa’i, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

MENGILMUI MASALAH PUASA DAN PEMBATALNYA

Definisi “shaum” atau puasa secara bahasa bermakna “menahan”.

Definisi secara syariat, Imam Al-Qurthubi -rahimahulloh- berkata, “Dia (puasa) adalah perbuatan menahan diri dari semua PEMBATAL PUASA disertai dengan niat, sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.”

(Tafsir Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah)

adapun yang disebut pembatal puasa adalah :

1. Makan dan minum dengan sengaja.

2. Muntah dengan sengaja.

3. Haidh dan nifas.

4. Berbekam (pembatal ini masih ada perbedaan pendapat, yang rajih adalah bekam dapat membatalkan jika menyebabkan kelemahan pada fisik)

5. Keluarnya mani dengan sengaja.

6. Berniat membatalkan puasa.

7. Jima’ (bersetubuh) di siang hari.

selain pembatal puasa, ada juga yang diistilahkan pembatal pahala puasa, yakni sesuatu amalan yang apabila orang yang berpuasa melakukannya maka bisa menghilangkan pahala puasa tersebut, tapi secara hukum kewajiban puasanya telah ditunaikan.

tentang ini Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka Alloh tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman.” (HR. Bukhari)

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش

“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah), al-Hakim dan dia menshahihkannya.

MENGILMUI MASALAH BERBUKA

Berbuka puasa dilaksanakan ketika masuk waktu sholat maghrib dan disunnahkan berbuka dahulu baru sholat maghrib.

Selain itu berbuka puasa disunnahkan dengan makanan yang manis seperti kurma dan seteguk air.Kedua sunnah ini (menyegerakan berbuka dan makanan yang manis-manis dan seteguk air) termaktub dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu , beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

(HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa’ad.)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.”

(HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Disunnahkan mebaca doa ketika berbuka. Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam,

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”

[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)

Yang dimaksud dengan إذا أفطر adalah “setelah” makan atau minum yang menandakan bahwa orang yang berpuasa tersebut telah “membuka” puasanya pada waktunya. Oleh karena itu doa ini tidak dibaca sebelum makan atau minum saat berbuka. Sebelum makan tetap membaca basmalah, ucapan “bismillah” sebagaimana sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Alloh Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Alloh Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Alloh pada awal dan akhirnya)”.

(HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

Adapun doa yang lain yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma adalah,

اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ

“Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii-ed”

[Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku](HR. Ibnu Majah: 1/557, no. 1753; dinilai hasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk kitab al-Adzkar; lihat Syarah al-Adzkar: 4/342)

Adapun do’a berbuka yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin yaitu,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu

(Ya Alloh, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)

Riwayat di atas dikeluarkan oleh Abu Daud, dari Mu’adz bin Zuhroh. Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani rahimahullah pun berpendapat bahwasanya ini hadits dhoif.

— PustakaSunnah.Wordpress.Com

literatur :

http://al-atsariyyah.com

kaahil.wordpress.com

http://muslimah.or.id

http://ibnuabbaskendari.wordpress.com

About pustakasunnah

Tolabul ilmi

Posted on Juli 31, 2011, in TOPIK, ۞ Puasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Izin Copas Atau Komentar Silahkan Diketik Pada Kolom Dibawah Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: